(0254) 8480010 | HELP DESK OSS BANTEN (081384827079)   |    dpmptsp@bantenprov.go.id

Mudik Lebaran dan Pertumbuhan Ekonomi Daerah

Mudik Lebaran dan Pertumbuhan Ekonomi Daerah

Mudik -yang konon berasal dari kata “udik”- tidak hanya merupakan aktivitas bernuansa agama dan budaya, namun juga memiliki nilai dan potensi ekonomi. Ritus tahunan masyarakat Indonesia yang dilakukan di hari-hari terakhir bulan Ramadan atau menjelang hari raya Idul Fitri ini menjadi salah satu stimulus meningkatnya pertumbuhan ekonomi daerah.

Pergerakan manusia secara serentak dari satu tempat ke tempat lain dalam jumlah besar tentu diikuti juga dengan pergerakan uang. Dalam leksikon ilmu ekonomi, perputaran uang yang besar dan cepat atau velocity of moneyakan mendorong produksi barang dan jasa terutama di sektor riil. Ini artinya, aliran uang sebagai konsekuensi dari adanya pergerakan manusia (pemudik) ini akan menjadi stimulus pertumbuhan ekonomi regional.

Seturut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pemudik dalam beberapa tahun terakhir ini mengalami kenaikan signifikan. Pada tahun 2013, BPS mencatat jumlah pemudik mencapai 22, 1 juta orang. Jumlah itu meningkat menjadi 23 juta orang pada tahun 2014. Di tahun 2015, jumlah pemudik melonjak menjadi 23, 4 juta orang. Di tahun 2018 lalu, jumlah pemudik tercatat mencapai 18, 9 juta orang.

Banyaknya jumlah pemudik tentu berbanding lurus dengan besarnya perputaran uang. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) RI mencatat, pada tahun 2018 jumlah uang berputar selama musim mudik mencapai 197 triliun rupiah. Jumlah itu terdiri atas 138 triliun pengeluaran selama mudik dan 59 triliun remitansi (aliran uang dari pekerja di luar negeri ke dalam negeri). Jumlah ini setara dengan 9 persen Anggaran Belanja dan Pendapatan Negara atau 1,3 persen Pendapatan Domestik Bruto (PDB) tahun 2018.

Lebih mencengangkan lagi, perputaran uang sebanyak itu terjadi dalam rentang waktu yang sangat singkat. Yakni, sekitar 14 hari saja.

Tahun ini, BPS memprediksikan jumlah pemudik mencapai tidak kurang dari 19 juta orang. Sementera Kementerian Perhubungan RI melakukan prediksi atas sebaran pemudik ditinjau dari alat transportasi serta jalur mudiknya.

Dari sisi alat transportasi, sebagian besar pemudik -yakni 4,46 juta orang atau setara 30 persen- akan menggunakan bus. Sementara 4,3 juta atau 28,9 persen lainnya akan menggunakan mobil pribadi. Sisanya menggunakan kapal laut dan pesawat terbang.

Sedangkan dari sisi jalur, sebanyak 40 persen pemudik akan melewati jalur tol Trans Jawa, 27 3 persen jalur Pantai Utara, 8,5 persen jalur lintas selatan, 3,4 persen jalur lintas Selatan-Selatan, 12 persen jalur alternatif dan 8,8 persen jalur Trans Sumatera.

Dari sisi ekonomi, jumlah uang berputar selama mudik diprediksi mencapai 217,1 triliun, atau mengalami kenaikan sebesar 13,5 persen. Hal ini dipicu oleh kenaikan jumlah THR dan gaji ke-13 yang diterima oleh Pegawai Negeri Sipil.

Selain itu, kenaikan jumlah perputaran uang pada musim mudik 2019 ini juga dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi kuartal II yang mencapai 5,27 persen. Angka tersebut merupakan angka pertumbuhan tertinggi sepanjang tahun 2018.[]

Share :