(0254) 8480010   |    dpmptsp@bantenprov.go.id

Menperin Airlangga Sebut Perang Dagang Jadi Peluang Investasi Manufaktur

Menperin Airlangga Sebut Perang Dagang Jadi Peluang Investasi Manufaktur

Pemerintah Indonesia terus berupaya agar investasi asing bisa segera masuk. Ini sebagai upaya mengambil celah melihat kondisi perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok.


Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menjelaskan ada beberapa industri asal China yang akan merelokasi pabriknya ke Asia Tenggara termasuk Indonesia yang menjadi tujuan utamanya.


“Mereka lagi memilah-milah sektor industri mana yang cocok masuk ke negara ASEAN. Di Indonesia mereka tertarik untuk melihat masuk ke industri yang bahan bakunya sudah siap,” kata Airlangga, Rabu (12/6), seperti dilansir kontan.co.id.


Menurutnya ada perusahaan tekstil, garmen, alas kaki, makanan minuman yang sedang melihat lokasi baru di Indonesia. Hanya saja secara spesifik perusahaan belum dibeberkan.


Menurutnya bagi Indonesia, kondisi perang dagang tidak ada yang diuntungkan. Meski demikian, Indonesia bisa punya peluang karena negara Indonesia merupakan zona nyaman. Sebab dalam 20 tahun terakhir negara ASEAN dalam kondisi aman. “Indonesia negara demokrasi yang cukup solid. Ini jadi bagian yang sangat menarik,” katanya.


Sementara itu, beberapa saat lalu Menperin baru saja bertemu dengan para pengusaha Jepang yang tergabung dalam Keidanren di Tokyo. Beberapa pengusaha Jepang yang sudah ada di Indonesia melihat ada peluang investasi tambahan untuk ekspansi.

Airlangga menambahkan, Jepang adalah salah satu kisah sukses dari para investor yang ingin terus menanamkan modalnya di Tanah Air. Contohnya di sektor industri otomotif, sejumlah produsen Jepang skala global telah menjadikan Indonesia sebagai basis produksi untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik hingga ekspor.


“Selain itu, Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe melihat negara Asia Tenggara terutama Indonesia punya basis kuat untuk penguatan ekonomi digital," lanjutnya. Di sisi lain, Menperin menambahkan perusahaan elektronik Jepang seperti Sharp berencana merelokasi pabrik yang berada di Thailand ke Indonesia.[]


Direktur Industri Elektronika dan Telematika Kementerian Perindustrian, Janu Sunaryanto menjelaskan pabrik tersebut merupakan pabrik mesin cuci dua tabung (tube). Jumlah tenaga kerja yang berada di Thailand mencapai 800 orang. Sehingga diperkirakan ada tenaga kerja baru yang terserap di Indonesia.

Sejatinya PT Sharp Electronics Indonesia (SEID) memiliki pabrik mesin cuci berukuran kecil atau satu tube saja. Selain itu Sharp juga produksi LED TV yang berlokasi di kawasan Karawang International Industrial City (KIIC).


Tak hanya perusahaan elektronik Sharp yang mau ekspansi kapasitas. Perusahaan asal Korea Selatan LG juga berencana memperbesar kapasitas pabrik pendingin ruangan atau air conditioner (AC). Pabrik tersebut berada di kawasan Legok, Tangerang Banten. Ekspansi ini diharapkan menekan barang impor. Asal tahu, impor AC di Indonesia per tahunnya mencapai US$ 300 juta.

Sebagai langkah awal, sebanyak 25 ribu untuk AC LG akan diproduksi lalu dijual ke pasaran. Selanjutnya, jumlahnya akan dinaikkan menjadi 50 ribu unit. “Juni mulai tes produksi dan komersial dijual September. Diharapkan tak hanya pasar domestik tapi juga bisa ekspor,” kata Janu.

Guna memacu investasi di sektor industri, Kementerian Perindustrian turut memfasilitasi sejumlah pembangunan politeknik di kawasan industri. Langkah strategis ini untuk menciptakan sumber daya manusia (SDM) kompeten yang sesuai kebutuhan dunia industri saat ini.

Kemenperin telah mengusulkan pemberian insentif fiskal berupa super deductible tax untuk industri yang aktif melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan untuk menghasilkan inovasi serta industri yang terlibat dalam program pendidikan dan pelatihan vokasi. Insentif fiskal ini diyakini dapat menarik para investor di sektor industri sekaligus mendongkrak daya saingnya.


Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Perdagangan Benny Soetrisno mengatakan, Indonesia sejatinya punya peluang untuk mengisi kekosongan dalam kondisi perang dagang. Hanya saja perlu ada upaya perjanjian bilateral yang baik agar bisa menangkap peluang tersebut. “Secara produk kita sudah kompetitif baik garmen, alas kaki dan lainnya,” kata Benny, Selasa (12/6).


Hanya saja Benny berharap ada dukungan pemerintah agar perusahaan swasta bisa ikut ambil bagian untuk hal tersebut. Misalnya dalam bentuk kejelasan produk apa saja yang bisa diekspor ke Amerika Serikat atau Tiongkok. “Kami saja belum tau HS Code apa yang dilarang dalam trade war,” jelasnya.[]


Share :