(0254) 8480010   |    dpmptsp@bantenprov.go.id

Ketahui, Ini Perbedaan Cara Berinvestasi Orang Biasa dan Miliarder

Ketahui, Ini Perbedaan Cara Berinvestasi Orang Biasa dan Miliarder

Salah satu kenyataan yang menyenangkan di era modern ini adalah makin banyaknya orang yang mulai menyadari pentingnya investasi sebagai salah satu cara mengelola keuangan pribadi.

Buktinya, kita bisa melihat sendiri kalau makin banyak topik talkshow di televisi, radio, bahkan di banyak artikel populer di media massa, terkait urusan investasi. Mulai dari memperkenalkan berbagai jenis investasi, seperti emas, deposito, properti, sampai reksadana; hingga ragam tips menjalaninya.

Kalau berdasarkan survei kecil-kecilan, tujuan orang berinvestasi kebanyakan untuk melipatgandakan uang. Bahkan ada orang yang mengalihkan sebagian besar tabungannya untuk investasi; dan tak sedikit juga yang 'pusing' karena merasa sudah mengikuti berbagai tips tapi masih mentok juga. Karena memang investasi itu butuh ketekunan, konsistensi, dan dedikasi.

Nah, terkait persoalan ini, mungkin kita bisa coba mengikuti pakem berinvestasi dari orang sukses seperti investor ternama asal Amerika Serikat, Warren Buffett; yang figurnya dikenal sebagai salah satu orang terkaya di dunia, karena kecanggihannya dalam urusan investasi!

Setelah ditelusuri, ternyata kunci keberhasilan Buffett dalam hal investasi adalah karena ia tidak memiliki prinsip seperti kebanyakan orang yang berinvestasi. Mau tahu apa saja prinsip Buffett ini? Coba simak penjelasannya berikut ini:

Dunia makin rumit, kita mesti tetap berpikir sederhana

Seperti kita semua sadari, saat ini perkembangan dunia berjalan sangat cepat. Teknologi dan terobosan baru muncul cepat, hingga menarik perhatian para investor. Karena, selalu ada saja hal baru yang muncul dan diprediksi akan menjadi besar. Akhirnya, banyak yang bersemangat menanamkan modal pada usaha rintisan itu.

Tapi, Buffett tidak begitu. Pikirannya sederhana saja; ia hanya berinvestasi pada hal-hal yang sudah terbukti jadi kebutuhan utama dalam kehidupan banyak orang sehari-hari; misal pada usaha makanan, minuman, atau energi. Maka itu Buffett tercatat berinvestasi di perusahaan seperti Kraft Heinz, Wells Fargo, dan Coca-Cola.

Bukan berarti menolak berbagai inovasi yang bermunculan, Buffett hanya tidak mudah tergoda menanamkan modal pada produk yang diprediksi akan 'meledak' di pasaran, padahal memang belum punya pasar konsumen yang jelas.

Cara berpikirnya simpel. Bahwa kebutuhan pokok orang tidak akan pernah drop; sehingga ia fokus pada usaha atau produsen yang menjawab kebutuhan pokok tadi.

Kenali bidang dan pengelola dari bisnis yang akan ditanamkan modal

Kenali bidang dan pengelola dari bisnis yang akan ditanamkan modal

Poin ini terkait juga dengan pertimbangan sebelumnya tadi; Buffett merasa kalau sangat penting bagi dia mengenali bidang dari usaha yang akan ditanamkan modal.

Maksudnya begini, banyak orang seringkali memutuskan untuk berinvestasi setelah ditawari oleh pihak yang belum mereka kenal baik. Mereka tergiur dengan janji tingkat balik modalnya, sehingga langsung saja memutuskan dengan cepat. Padahal, belum tentu mereka paham bidangnya seperti apa.

Maka itu, bagi Buffett ketimbang berinvestasi pada bidang teknologi mutakhir, seberapapun potensi keuntungannya, ia lebih memilih untuk menanamkan modal pada usaha consumer goods atau pakaian, yang mungkin lebih ia pahami luar dalam.

 

Ia terang-terangan menyatakan kalau tidak mau berinvestasi pada 'dunia' yang tidak diketahuinya secara persis. Karena investasi buatnya bukan hanya soal penanaman dan penerimaan balik modal, tapi investor juga mesti yakin dan memahami betul sektor usaha yang ia pilih.

Yang menarik juga, Buffett bahkan merasa perlu mengenal pengelolanya, karena menurut Buffett karakter orang yang menjalankan usaha tertentu akan sangat menentukan kegagalan atau kesuksesan investasi yang ia lakukan. Jika ia merasa si pengelola tidak capable, maka Buffett pun akan mundur.

Lalu, juga memahami betul nilai riil sebuah usaha atau produk

Lalu, juga memahami betul nilai riil sebuah usaha atau produk

Selain mengenal bidang dan pengelolanya, Buffett juga sangat ketat menyeleksi usaha atau produk yang jadi sasaran investasinya. Ia mesti benar-benar mengetahui nilai riilnya.

Misal begini, dengan tren pasar yang dinamis dan berubah-ubah, selalu ada saja produk atau bidang usaha yang mendadak mencuat jadi primadona. Dan ya, sesuai dengan hukum ekonomi, jika ketertarikan meningkat, maka nilainya pun melambung tinggi.

Kebanyakan orang akan tergoda dengan fenomena semacam itu, hingga mereka pun menginvestasikan dananya pada produk atau bidang usaha yang populer tadi. Padahal, nilai sesungguhnya belum tentu setinggi itu.

Cara berinvetasi semacam itupun sangat dihindari Buffett. Ia berusaha keras mencari tahu nilai sesungguhnya dari sasaran investasinya. Ia selalu ingin mempelajari semua berkas usaha tersebut untuk mengetahui nilai persisnya. Jika ia merasa nilai riilnya memang tinggi, baru Buffett memutuskan untuk menginvestasikan dananya.

Pasar rentan terpengaruh pemberitaan dari media massa, tapi Buffett tidak menghiraukan headline!

Pasar rentan terpengaruh pemberitaan dari media massa, tapi Buffett tidak menghiraukan headline!

Di tengah arus informasi yang kini makin deras, satu berita atau celetukan di media sosial saja bisa memicu polemik dan pergunjingan banyak orang. Hal semacam ini seringkali juga mempengaruhi sektor investasi akibat ada kepanikan atau antusiasme berlebihan terhadap suatu hal.

Tapi buat Buffett, ia merasa tidak harus peduli dengan headline atau rumor yang beredar di media massa. Ia kukuh saja pada pendiriannya, karena ia merasa sudah cukup matang memikirkan langkah investasinya.

Seperti diterangkan sebelumnya, kalau ada antusiasme berlebihan pada produk atau usaha tertentu, ia melihat dan mempelajari dulu nilai riilnya secara cermat, ketimbang langsung nafsu menanamkan modal. Lalu, ia juga fokus pada pengukuran kinerja investasi yang dilakukannya.

Juga mesti memahami cara mengukur kinerja investasi

Juga mesti memahami cara mengukur kinerja investasi

Menurut Buffett, banyak orang agak mengabaikan hal ini. Mereka yang berinvestasi dan mengharapkan imbal balik yang positif, justru tidak terlalu memahami cara menilai perkembangan investasinya.

Mulai dari cara dasar, sampai kemampuan membaca laporan keuangan yang baik agar tidak gampang silau dengan 'angka-angka fantastis' yang tampil di atas kertas.

Salah satu media pernah melaporkan kalau Buffeet memiliki standar perhitungan untuk memantau pertumbuhan nilai investasinya; yaitu target return minimal 20 persen per tahun.

Tidak mengharapkan keuntungan dalam waktu cepat

Selain memperhitungkan kinerja investasi dengan baik, Buffett juga tidak mengharapkan keuntungan dalam waktu cepat. Menurutnya, kesalahan banyak investor adalah tidak berpikir panjang, dan akhirnya mengharapkan keuntungan instan.

Terkait hal itu, seorang investor harus tidak mudah panik jika keadaan sedang memburuk, tapi juga tidak mudah tergoda kalau ada produk atau usaha yang mendadak populer di pasaran.

Buffett selalu berinvestasi minimal lima tahun pada usaha yang ia tanamkan modal. Hal itupun ia lakukan lewat proses yang sudah dibahas sebelumnya, mulai dari pilihan sektor usaha, mengenal bidang dan pengelolanya, memastikan nilai riilnya, dan tentunya memantau kinerja investasinya dengan baik.

Dan sederet prinsip dari Buffett ini juga sebetulnya tidak serumit yang dibayangkan. Bahkan, kita bisa menggunakannya untuk keperluan investasi kita, meski skalanya tidak sebesar yang dijalani Buffett.

Nah, untuk memulai, Anda bisa mencoba investasi Reksa Dana Saham dari Bank DBS, yang merupakan reksa dana dengan hasil pengembalian melalui investasi dengan komposisi saham ≥ 80% dari total portofolio.

Reksa Dana Saham Bank DBS bertujuan untuk memberikan pertumbuhan modal jangka panjang bagi pemegang unitnya, dan tentunya bisa jadi instrumen kita melatih prinsip investasi kita, agar bisa sukses seperti Warren Buffett! Selamat mencoba!

Share :