(0254) 8480010   |    dpmptsp@bantenprov.go.id

Hadapi Industri 4.0 , Industri Manufaktur Jadi Sektor Prioritas

Hadapi Industri 4.0 , Industri Manufaktur Jadi Sektor Prioritas

Memasuki era Industri 4.0 yang memiliki visi menghasilkan “industri yang cerdas", penggunaan teknologi menjadi sebuah keniscayaan. Mulai dari proses pembuatan, pengawasan, hingga membuat keputusan yang terintegrasi Lewat Internet untuk segala hal. Sistem siber ini berkomunikasi dan bekerja sama satu sama lain secara lintas institusi dan dimanfaatkan oleh berbagai pihak di dalam rantai produksi lewat jejaring internet.

Ada beberapa prinsip dalam Industri 4.0, salah satunya Transparansi informasi, yakni Kemampuan sistem informasi untuk menciptakan informasi secara virtual dengan memperkaya melalui digitalisasi. Prinsip ini membutuhkan pengumpulan data dan evaluasi agar menghasilkan informasi bernilai tinggi.

“Prinsip lainnya adalah terkait bantuan teknis yang mencakup kemampuan sistem bantuan untuk membantu manusia dengan mengumpulkan dan membuat visualisasi informasi secara menyeluruh agar bisa membuat keputusan yang bijak dan menyelesaikan masalah genting yang mendadak,” kata Nur Fauziah Thohir,  Kabid Sosmasek BAPPEDA  Kota Tangerang saat menjadi narasumber pada kegiatan Pengembangan Data Potensi dan Penanaman Modal yang diselenggarakan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Banten, Rabu (20/11).

Berdasarkan peta jalan Making Indonesia 4.0, Kementerian Perindustrian telah menetapkan lima sektor manufaktur yang akan diprioritaskan pengembangannya pada tahap awal agar menjadi percontohan dalam implementasi revolusi industri generasi keempat di Tanah Air. Lima sektor tersebut, yaitu industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, elektronik, serta kimia.

Lima sektor industri itu mampu memberikan kontribusi sebesar 60 persen untuk PDB, kemudian menyumbang 65 persen terhadap total ekspor, dan 60 persen tenaga kerja industri ada di lima sektor tersebut. Sesuai asprirasi Making Indonesia 4.0, diharapkan pertumbuhan PDB bertambah 1-2 persen. Jadi, kalau saat ini rata-rata 5 persen bisa menjadi 6-7 persen. Kemudian, dengan capaian itu, penciptaan lapangan kerja naik 30 persen, dan kontribusi industri di angka 25 persen.

Menurut Nur, terkait penerapan Industri 4.0, masih kerap menemui kendala. Hal ini berkaitan dengan kesiapan perpindahan ke industri 4.0 Indonesia terletak pada SDM dan pemerataan, beberapa sektor industri di Indonesia masih belum mendekati Industri 4.0, contoh saja pada industri agraris, masih ada petani menggunakan cangkul, walaupun beberapa daerah petaninya sudah memasuki Industri 4.0, tidak semua petani menguasai komputer.

“Masalah lainnya terletak pada banyaknya penduduk Indonesia yang tidak memiliki SDM memadai, karena diperkirakan dengan masuknya industri ini akan memangkas tenaga manusia dengan kemampuan SDM rendah dan kemungkinan meningkatkan angka pengangguran,” jelasnya. [Adv]

Share :