WA OSS (08138 48270 79), PENGADUAN (08776 77777 07)   |    dpmptsp@bantenprov.go.id, dpmptsbantenpengaduan@gmail.com

Pemprov Banten Jamin Kondusifitas dan Keuntungan Investasi di Banten

Pemprov Banten Jamin Kondusifitas dan Keuntungan Investasi di Banten

Pemerintah Provinsi Banten memastikan kondusifitas iklim investasi di Banten untuk memberikan kenyamanan penanam modal saat berinvestasi di Banten.  Terkait perizinan, Pemprov Banten juga akan memberikan kemudahan dan pelayanan prima perizinan dalam upaya kepastian berinvestasi bagi penanam modal. Hal itu disampaikan Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy saat membuka acara Banten Investment Gathering 2019 yang diselenggarakan oleh Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTP) Provinsi Banten di ICE BSD City Kota Tangerang, Selasa (26/11).

Acara tersebut dihadiri 100 peserta yang terdiri dari pengusaha, BUMN, perbankan, dan instansi terkait. Pada kesempatan tersebut, Wagub Andika memberikan penghargaan kepada perusahaan yang patuh menyerahkan Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) di Provinsi Banten.

Dalam acara yang bertajuk Improving The Ease of Doing Business in Banten Province Wagub Andika menyampaikan kelebihan berinvestasi di Provinsi Banten, salah satunya Banten memiliki service area yang representatif. Service area yang dimaksud yakni memiliki infrastruktur dan moda transportasi yang memadai, mulai dari ketersediaan Bandara Soekarno-Hatta, Pelabuhan Merak hingga aksesibilitas antar daerah.

Banten punya 19 kawasan industri. Ini jadi kebanggaan dalam pengembangan sektor penguatan industri di Banten. Kita ingin 19 kawasan memberikan dampak ekonomi pada masyarakat,” jelas Wagub.

Wagub berharap, melalui acara tersebut, dapat memperkuat koordinasi antara pengusaha dengan pemerintah untuk membicarakan langkah bisnis strategis. Untuk memberika keamanan dan kenyamanan bagi investor, Pemprov Banten akan menjamin kenyamanan dan keamanan investor saat berinvestasi di Banten.

“Kita sudah sudah berkoordinasi dengan stakeholder terkait. Kita ingin siapa saja yang berinvestasi di Banten nyaman dan aman,” tegasnya.

Menyoroti perpindahan industri di Banten yang pindah ke daerah lain, Wagub menyebut kondisi demikian menjadi tantangan bagi pemerintah dan dunia usaha untuk mencari solusi bersama. Sedianya ada 25 industri yang berencana akan pindah ke daerah lain secara bertahap.

"Kita akan buat formulasi untuk memecahkan masalah yang ada seperti soal UMK," jelas Wagub.

Sementara itu, Kepala Plt. DPMPTSP Provinsi Banten Sentot Cahyadi memaparkan, Investment Gathering 2019 jadi momentum bagi provinsi Banten untuk mempromosikan potensi investasi, menyampaikan realisasi, dan membahas rencana bisnis antara investor. Melalui acara ini, Sentot juga berharap dapat meningkatkan minat dan realisasi investasi langsung (direct Investment) dan memfasilitasi antara investor dengan calon investor, maupun dengan pemangku kepentingan.

Kepala Sub Direktorat Wilayah Sumatera dan Kalimantan BKPM RI Saribua Siahaan menyebutkan, konsistensi Provinsi Banten yang selalu menjadi 10 besar realisasi investasi secara nasional menjadi bukti bahwa Banten memang memiliki daya tarik yang bagus. “Tentu saja Banten mempunyai apa yang dibutuhkan investor, mulai dari letak strategis, hingga kemudahan berinvestasi,” katanya.

Menurutnya investor akan mencari daerah yang paling menguntungkan dan potensial. Termasuk kemudahan perizinan. “Ini yang menjadi konsen pemerintah untuk menarik investasi melalui sistem perizinan, termasuk di daerah salah satunya melalui OSS. Kemudahan ini untuk memberikan kepastian bagi investor," jelasnya.

Saribua menegaskan,  BKPM memberikan perhatian untuk memberikan kemudahan berusaha dengan layanan perizinan satu pintu agar dapat menarik lebih banyak investor berinvestasi di daerah. Pemerintah terus mengevaluasi jenis perizinan.  Menurutnya, aspek kemananan, kemudahan, dan kepastian yang akan dilihat oleh investor.  “OSS diciptakan selain untuk memudahkan dapat izin, itu juga mengatasi praktik transaksi under table. Memangkas percaloan,” tuturnya.

Saribua menyebutkan enam indikator kinerja BKPM RI, yakni perbaikan perbaikan kemudahan berusaha, eksekusi  realisasi investasi besar, mendorong investasi besar untuk bermitra dengan UMKM, penyebaran investasi berkualitas, promosi Investasi terfokus berdasarkan sektor dan negara, dan mendorong peningkatan investasi dalam negeri, khususnya UMKM.

Investasi Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi

Kepala Tim Advisory Ekonomi dan Keuangan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten  Purwanto mengatakan, Pertumbuhan ekonomi provinsi Banten pada triwulan III 2019 sebesar 5,41% (yoy) atau meningkat  dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 5,36% (yoy). Tercatat lebih tinggi dibanding Nasional (5,05% (yoy)) namun berada dibawah rata-rata Jawa yang sebesar 5,81% (yoy).

“Pertumbuhan Ekonomi Banten sebesar 31 persen ditopang oleh sektor industri seperti kimia, baja,  dan industri makanan. Jika melihat perkembangan realisasinya, Banten masih seksi.  Kita berharap tahun ini tren pertumbuhan kredit juga meningkat sampai 12 persen,” papar Purwanto.

Ekonomi Provinsi Banten masih didominasi oleh sektor industri dengan pangsa mencapai 31,20%. Lebih jauh tiga industri yang memiliki pangsa dominan pada ekonomi provinsi Banten adalah Industri Kimia-Farmasi (21,40%), Barang dari logam (elektronik, Komputer dan lainnya) (17,07%) dan TPT (11,40%).

Berdasarkan lokasinya, industri di provinsi Banten berpusat pada wilayah Banten Utara khususnya Tangerang, Serang dan Cilegon. Dari sisi investasi, pertumbuhan PMA di Provinsi Banten dalam 7 tahun terakhir tercatat baik dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 7,66% (yoy) atau berada diatas pertumbuhan nasional dan regional Jawa. Terakhir, pada tahun 2018, total PMA di Provinsi Banten mencapai sebesar USD 2,88 miliar atau menjadi yang terbesar ke 3 secara nasional (pangsa 9,56% pada nasional). Sektor tujuan utama PMA di Provinsi Banten meliputi Industri logam dasar (21,66%), industri kimia (17,82%) serta listrik dan gas (13,53%).

Sama halnya dengan apa yang dialami di sisi PMA, PMDN di Provinsi Banten juga tercatat tumbuh sangat baik dengan rata-rata pertumbuhan dalam 7 tahun terakhir mencapai 27,50% (yoy) atau berada diatas pertumbuhan nasional dan regional jawa. Pada tahun 2018 total PMDN di provinsi Banten mencapai Rp 18,63 triliun atau menjadi yang terbesar ke-6 secara nasional (pangsa 5,67% pada nasional). Sektor tujuan utama PMDN di provinsi Banten meliputi industri logam dasar (23,88%), listrik gas (14,25%) dan industri makanan (12,37%).

Dari sisi kapital, infrastruktur logistik dan konektivitas yang berkembang di provinsi Banten saat ini tercatat sudah cukup baik dalam mendukung kegiatan invetasi dan dunia usaha yang ada di provinsi Banten. Kondisi jalan yang baik, kemudahan akses bandara internasional serta tersedianya pelabuhan yang dapat melakukan kegiatan ekspor membuat daya saing provinsi Banten dari segi kapital tercatat cukup baik. Meski demikian, perlu adanya revitalisasi pelabuhan utama ekspor untuk dapat mendukung kegiatan ekspor yang saat ini banyak dilakukan melalui pelabuhan Tanjung Priuk.

Pengamat Ekonomi Ahmad Mukhlis Yusuf menjelaskan, sebagai daerah yang memiliki kekayaan alam melimpah, ada banyak sektor investasi yang dikembangkan.  Mukhlis menyebut sektor perikanan, peternakan, dan pertanian terbilang potensial di Banten. Investasi berbasis agroindustri jadi peluang menarik bagi investor, mengingat beberapa wilayah di Banten seperti Kabupaten Pandeglang dan Lebak menyimpan kekayaan alam yang potensial. Didukung infrastruktur yang ada, investasi sektor agroindustri jadi peluang menarik. Apalagi aksesibilitas daerah di Lebak dan Pandeglang sudah mendukung.

Mukhlis juga menyinggung terkait persaingan investasi di era digital. Menurutnya, secara global era digitalisasi akan menghilangkan sekitar 1–1,5 miliar pekerjaan sepanjang tahun 2015-2025 karena digantikannya posisi manusia dengan mesin otomatis. Era digitalisasi juga berpotensi memberikan peningkatan net tenaga kerja hingga 2.1 juta pekerjaan baru pada tahun 2025.

“DPMPTSP Provinsi Banten perlu melakukan kolaborasi antara dunia industri, akademisi, dan masyarakat untuk mengidentifikasi permintaan dan ketersediaan skill bagi era digital di masa depan,” paparnya.[] 

 

Share :