(0254) 8480010 | HELP DESK OSS BANTEN (081384827079)   |    dpmptsp@bantenprov.go.id

Bahlil Sebut Investasi Singapura Kemungkinan Duit Orang-Orang RI

Bahlil Sebut Investasi Singapura Kemungkinan Duit Orang-Orang RI
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengakui besarnya nilai Investasi Singapura di Indonesia, tidak semuanya berasal dari negara tersebut. Namun, Singapura justru dijadikan negara penghubung sebelum masuk ke dalam Indonesia. 

"Ternyata Singapura menjadi hub untuk negara-negara lain yang mau masuk ke Indonesia lewat Singapura," kata Bahlil di program Impact with Peter Gontha beberapa waktu lalu.

Singapura dinilai berhasil menarik banyak uang dari beragam negara termasuk Indonesia untuk menyimpan uang. Meski tidak keseluruhan uang digunakan untuk investasi di negara tersebut. Sejumlah insentif yang diberikan menjadi magnet kuat Singapura sebagai pusat jasa keuangan dunia. 
Fakta lainnya adalah, sampai saat ini penanaman modal asing (PMA) di Indonesia masih terbesar dari Singapura.

"Bahkan mungkin tidak menutup kemungkinan, uang yang masuk itu pun, uang dari teman-teman pengusaha di Indonesia. Tidak menutup kemungkinan itu terjadi," sebut Bahlil.

Hal tersebut diklaim Bahlil menjadi perhatian besar baginya. Agar uang investasi yang masuk ke Indonesia bisa langsung masuk tanpa melewati negara lain. Merayu pengusaha dengan pendekatan pun coba dilakukan.

"Karenanya, dibutuhkan modal kepercayaan untuk bisa menariknya. Trust (kepercayaan) itu penting," kata mantan ketua Hipmi (Himpunan Mahasiswa Islam) tersebut.

Salah satu yang dirasa Bahlil mengganggu pengusaha yakni dalam kepastian hukum. Indonesia kerap dinilai inkonsistensi dan kurang ramah dengan kepastian hukum. 

"Ketika tax amnesty, mereka ujicoba sebenarnya di sana. Apa ini ada jaminan?" kata Bahlil.

Pada semester I-2019, realisasi PMA tercatat senilai Rp 212,8 triliun, tumbuh 4% dibandingkan capaian paruh pertama tahun 2018. Singapura menjadi negara yang paling banyak menanamkan modal di tanah air. Sepanjang paruh pertama 2019, investor asal Singapura menanamkan dana senilai US$ 3,4 miliar.[]

Share :