WA OSS (08138 48270 79), PENGADUAN (08776 77777 07)   |    dpmptsp@bantenprov.go.id, dpmptsbantenpengaduan@gmail.com

Tren Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Membaik

Tren Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Membaik
Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Febrio Nathan Kacaribu menyatakan perekonomian Indonesia tumbuh positif sejak triwulan III tahun 2020. Tren ini diprediksi akan terus meningkat secara signifikan pada beberapa waktu ke depan.

"Kini mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan secara nyata. Sudah menunjukkan perbaikan dalam beberapa bulan belakangan ini," kata Febrio

Hal tersebut juga sempat disampaikan Febrio ssat diskusi virtual media Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) bertajuk "Reformasi dan transformasi Ekonomi" .

Menurut Febrio, ada lima indikator pemulihan ekonomi nasional. Antara lain, konsumsi rumah tangga dari minus 5,5 persen pada triwulan kedua beranjak ke minus 4 persen, belanja pemerintah yang pada triwulan lalu minus 6,9 persen kini tumbuh positif mencapai 9,8 persen, investasi dari triwulan lalu minus 8,6 persen saat ini tumbuh menjadi minus 6,5 persen.

"Ekspor dari minus 11,7 persen pada triwulan lalu kini merangkak naik sebesar 10,8 persen, dan terakhir impor dari minus 17 persen menjadi minus 11,9 persen," jelasnya.

Pemerintah, lanjut Febrio, telah melakukan berbagai upaya kebijakan stimulus fiskal berkaitan pemulihan perekonomian dalam beberapa waktu ke depan. Setiap kebijakan ini, sangat berdampak terhadap pertumbuhan perekonomian bangsa di tengah pandemi.

"Seluruh komponen pertumbuhan berada dalam tren positif, karena didukung sepenuhnya oleh stimulus fiskal untuk pandemi Covid-19 dan program pemulihan perekonomian," urai Febrio.

Salah satu kebijakan pemerintah adalah pemberian bantuan Rp 695,2 triliun untuk penangan penyebaran Covid-19. Hal ini, ikut mendorong pertumbuhan perekonomian dalam negeri.

Dari jumlah tersebur, sudah terealisasi sebesar Rp 376,17 triliun. Atau 54,1 persen dari total pagu anggaran yang tersalurkan ke masyarakat terdampak.

Rincian alokasi anggaran menyasar enam klaster program utama. Yakni, kesehatan, perlindungan sosial, pemda dan sektoral, insentif dunia usaha, UMKM, dan pembiayaan korporasi.

"Pemerintah berhasil merealisasi 54,1 persen anggaran tersebut," tuturnya.

Klaster perlindungan sosial menjadi yang teratas dalam penyerapan anggaran, yakni, sebesar Rp 177,05 triliun (75, 6 persen). Diikuti UMKM yang menyerap anggaran sebesar Rp 94,64 triliun (82,4 persen).

"Dua klaster ini yang sangat cepat penyerapan anggaran, karena memang pemerintah fokus dengan dua hal ini," lanjutnya.

Kemudian, disusul oleh sektoral kementerian atau lembaga, sebesar Rp 32,21 triliun (48,8 persen), kesehatan Rp 32,15 triliun (33,1 persen), dunia usaha Rp 38,13 triliun (31,6 persen). "Terakhir, pembiayaan korporasi Rp 2,001 triliun atau 3,2 persen," pungkasnya.


Share :