KONSULTASI : OSS (081384827079), SIPEKA (081325778089), PENGADUAN (082110997721)   |    dpmptsp@bantenprov.go.id

Industri Logam Penyumbang Terbesar Penanaman Modal Sektor Manufaktur, Nilainya Fantastis!

Industri Logam Penyumbang Terbesar Penanaman Modal Sektor Manufaktur, Nilainya Fantastis!

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengungkapkan bahwa industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya, sebagai kelompok penyumbang terbesar pada penanaman modal di sektor manufaktur.

Hal ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, Taufiek Bawazier dengan nilai penanaman modal Rp27,9 triliun atau berkontribusi 12,7 persen pada triwulan I/2021.

"Artinya, industri baja terus memberikan kontribusi besarnya bagi penerimaan devisa, terutama dalam proses hilirisasi atau peningkatan nilai tambah bahan baku di dalam negeri,” kata Taufiek melalui keterangannya kepada Akurat.co di Jakarta, Senin (26/7/2021).

Taufiek juga menyebut ndustri baja selama ini memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional, mulai dari peningkatan pada investasi, penyerapan tenaga kerja, hingga ekspor.

Pada Januari-Maret 2021 nilai ekspor industri logam dasar tercatat sebesar 5,87 miliar dolar AS atau naik tujuh persen dibanding capaian di periode yang sama tahun lalu mencapai 5,48 miliar dolar AS.

Meskipun di tengah hantaman dampak pandemi COVID-19 permintaan terhadap produk baja di pasar ekspor mengalami peningkatan hingga kuartal pertama tahun ini seiring dengan berjalannya kegiatan konstruksi.

“Kami juga terus mendorong peningkatan penggunaan produk baja di dalam negeri, karena pembangunan konstruksi di tanah air yang masih terus berjalan,” imbuhnya.

Taufiek mengemukakan hampir seluruh negara mengalami penurunan produksi baja pada tahun 2020 karena dampak pandemi. Namun hal tersebut tidak terjadi di beberapa negara, seperti China yang produksinya justru meningkat 5,2 persen.

Berikutnya produksi baja di Turki meningkat 6 persen, Iran meningkat 13 persen, dan Indonesia mampu meningkat hingga 30,25 persen dibandingkan pada 2019.

Share :