KONSULTASI : OSS (081384827079), SIPEKA (081325778089), PENGADUAN (082110997721)   |    dpmptsp@bantenprov.go.id

Target Investasi Rp900 Triliun Bisa Dicapai Berkat 3 Faktor Berikut

Target Investasi Rp900 Triliun Bisa Dicapai Berkat 3 Faktor Berikut

Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia optimistis target investasi tahun ini akan tercapai sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi ke level 5 persen.

BKPM mencatat, realisasi investasi telah mencapai Rp659,4 triliun pada kuartal III/2021 atau mencapai 73,3 persen dari target.

"Di kuartal IV, keyakinan saya bahwa pertumbuhan ekonomi kita, kalau kondisinya stabil seperti ini, bisa sampai dengan 5 persen. Dengan catatan, realisasi investasi kita harus mencapai Rp900 triliun," katanya.

Direktur Eksekutif Center of Law and Economic Studies (Celios) Bhima Yudhistira menyampaikan bahwa target investasi sebesar Rp900 triliun pada tahun ini sangat mungkin untuk dicapai dengan mempertimbangan sejumlah faktor.

Pertama, realisasi investasi mulai menunjukkan meningkat, setelah sebelumnya sempat tertunda pada masa pandemi Covid-19, misalnya di sektor konstruksi, industri manufaktur, serta pertambangan dan penggalian.

Kedua, kinerja investasi pada periode tersebut akan dipengaruhi oleh faktor booming komoditas. “Momentum booming komoditas dimanfaatkan untuk meningkatkan investasi, tercermin dari kredit investasi di sektor perkebunan dan pertambangan yang naik diatas rata-rata penyaluran kredit investasi,” katanya

Sementara itu, faktor ketiga menurut Bhima adalah kebutuhan nikel untuk komponen baterai dan mobil listrik yang diproyeksikan meningkat, sehingga direspon dengan percepatan realisasi investasi di bidang smelter dan pabrik baterai.

Namun demikian, menurut Bhima, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi ke level 5 persen tak cukup hanya ditopang oleh kinerja investasi, tetapi juga dipengaruhi oleh serapan belanja pemerintah dan konsumsi rumah tangga.

Di samping itu, Bhima mengatakan masih ada sejumlah tantangan yang perlu diperhatikan dalam meningkatkan realisasi investasi, misalnya beberapa sektor di luar komoditas saat ini mengalami tekanan dari sisi biaya produksi.

“Kondisi ini menjadi salah satu penghalang investasi, misalnya di industri makanan dan minuman saat ini tengah mengalami tekanan biaya produksi, dikarenakan harga CPO dan gas meningkat,” jelasnya.

Di samping itu, pengetatan kebijakan moneter di negara-negara maju, salah satunya dengan tren kenaikan suku bunga acuan, menurutnya akan memberikan tantangan pada kinerja investasi di negara emerging market ke depan, termasuk Indonesia.

Bhima pun mengingatkan, realisasi investasi pun perlu didorong dari sisi kualitas, dengan memperbanyak investasi yang dapat meningkatkan serapan tenaga kerja.

“Sekarang yang lebih urgent lagi investasi yang padat karya karena bisa meningkatkan multiplier effect pada pertumbuhan ekonomi. Itu yang dibutuhkan sekarang, jadi kualitasnya, bukan hanya kuantitas,” kata dia.






Share :