Investasi di Sektor Industri Alas Kaki Terus Digenjot


Industri Kimia, Tektsil, dan Aneka (IKTA) merupakan kelompok sektor manufaktur yang berkontribusi signfikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian (Kemprin) terus berupaya mengakselerasi pertumbuhan sektor IKTA melalui pendalaman struktur industri serta melakukan peningkatan investasi dan ekspor.

Kemprin menargetkan nilai investasi di sektor IKTA akan mencapai Rp 117 triliun pada tahun 2018, naik dari realisasi tahun 2017 yang diperkirakan menembus hingga Rp 94 triliun.

Penanaman modal dari sektor IKTA tahun ini diproyeksi bakal menyumbang sebesar 33% terhadap target investasi secara keseluruhan pada kelompok manufaktur nasional sebanyak Rp 352 triliun.

Salah satu penyumbang investasi itu yakni industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki.Dalam kunjungan kemarin, Pemerintah RI dan Korea bahkan berkomitmen untuk meningkatan kerjasama investasi.

Misalnya, Parkland yang menggelontorkan dananya sebesar US$ 75 juta guna membangun industri alas kaki di Pati Jawa Tengah. Serta ada Taekwang Industrial akan membangun industri alas kaki senilai US$ 100 juta di Subang dan Bandung, Jawa Barat.

Firman Bakrie, Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), mengatakan sejatinya investasi Parkland tersebut sudah dicanangkan sejak tahun lalu. Sejatinya Parkland juga sudah beroperasi di daerah Banten. Sedangkan untuk Taekwang dia baru mendengar perusahaan itu masuk.

"Tapi ini bagus karena untuk bisa bersaing dengan negara lain kita perlu investasi baru. Agar ekspor Indonesia bisa meningkat," kata Firman kepada Kontan.co.id, Kamis (13/9).

Dari catatan Kemenperin sektor ini mampu mencatatkan angka ekspornya hingga Rp 66 triliun di tahun 2017, naik 5,87% dibandung tahun 2016. Target ekspornya pada 2018 akan mencapai US$ 5,3 miliar dan tahun 2019 sebesar US$ 6 miliar.

Firman menilai ekspor tahun ini bisa meningkat 5% dibandingkan tahun lalu. Namun nilai tersebut masih kalah jauh ketimbang Vietnam yang tahun lalu bisa tumbuh double digit atau senilai US$ 14 miliar. 

Dilansir kontan.co.id, Vietnam bahkan saat ini menjadi eksportir terbesar kedua setelah Cina. Catatan saja, saat ini Indonesia saat ini berada di posisi keenam dunia sebagai eksportir alas kaki. "Kita jangan sampai kalah pertumbuhan dengan Kamboja yang tahun lalu pertumbuhannya bisa 420% atau mencapai US$ 1,8 miliar," paparnya.

Firman menjelaskan pemerintah perlu juga memperkuat perjanjian bilateral dengan negara lain. Khususnya di Amerika Serikat dan Eropa yang merupakan basis utama negara ekspor. Apalagi banyak negara pesaing yang sudah perjanjian Free Trade Agreeement (FTA) untuk negara tersebut.

Namun Firman mengingatkan perlu ada perhatian dari pemerintah. Sebab saat ini konsentrasi investasi hanya di Jawa Tengah. Sedangkan daerah lain seperti Banten yang awalnya pusat industri alas kaki jadi terbengkalai. "UMR di Jateng memang lebih kompetitif dibandingkan daerah lain. Tapi tenaga kerja daerah lain juga perlu diperhatikan," tambahnya.

Adapun untuk persaingan dengan produk impor yang legal dan ilegal pun jadi persoalan. Hal ini karena Indonesia masih jadi pusat produksi namun belum kuat dalam distribusi.

"Banyak pengusaha UMKM alas kaki seperti di Pulogadung dan Cibaduyut sudah alih profesi. Ini harus kita proteksi agar industri dalam negeri jadi tuan rumah di negeri sendiri," jelasnya.

Selain itu Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 34 Tahun 2017 tentang Pemungutan PPh Pasal 22 belum bisa menangkal impor alas kaki mudah masuk. Menurutnya juga diperlukan pengawasan di daerah pelabuhan agar impor ilegal tidak mudah masuk.[]


Jadwal Sholat


Prakiraan Cuaca


Twitter


Facebook


Tentang Kami


Statistik Kunjungan